Living in the moment, live in the present. Hidup di saat ini, sekarang, bukan nanti, bukan kemarin. S.E.K.A.R.A.N.G.

Hidup di saat ini

Note: Tulisan ini sudah berumur 3 tahun lalu (2017), ngendon di draft.. Padahal ada bagian-bagian yang menurut saya penting banget. Jadi, saya putuskan untuk publish sekarang.

Meskipun elmuha sudah paham betul bahwa agar kita bisa bahagia dan menikmati hidup, adalah dengan cara live in the moment, saat ini–Jangan terganggu dengan masa lalu–tak usah berandai-andai masa nanti, namun saya sebenarnya masih belum menguasai betul bagaimana caranya, hidup di saat ini.

Mungkin karena saya sudah terbiasa untuk hidup, demi masa depan, sehingga hal-hal kecil jadi ikutan selalu tentang nanti.

Masa depan dan hidup di saat ini, bukanlah dua hal yang berlawanan. Kita bisa hidupi keduanya beriringan. Caranya bagaimana?

Kan udah saya bilang, saya belum menguasai. Tapi apalah arti internet kalau kita tidak memanfaatkannya demi tujuan positif, yaa kkaaaan?

Ada satu contoh lucu, tentang hidup di masa nanti, dimana seharusnya mesti fokus di saat sekarang.

Pernah gak (kalau saya sih, sering), kalian nyampe di satu tempat yang indah, lalu langsung bilang, wow, tempatnya bagus banget, gue mesti dateng lagi nanti di tempat ini. Gitu…

Ada? Ada yang pernah?

Coba pikirkan, secara tidak sadar, sebenarnya kita sudah menyia-nyiakan moment terbaik itu, dengan bayangan masa depan yang gak nyata. Akibatnya, kita tidak fokus untuk benar-benar menikmati pemandangan, dan momen saat itu.

Konyol sekali, fakta suram yang sering saya lakukan, “nanti saya dateng lagi ke sini…”

Ya emang bener sih, saya beneran berencana dateng lagi ke tempat itu, tapi ya itu tadi, kita jadinya membuang moment saat itu, demi masa nanti yang belum jelas kapan datangnya. Konyol bukan?

Biar bisa bahagia, mari kita bahas, cara biar kita bisa hidup di saat ini, sekarang. Living in the moment, present.

Satu kunci yang harus diingat dan tentunya diaplikasikan; “JANGAN KHAWATIR TENTANG BESOK NANTI, JANGAN BERPIKIR TENTANG MASA LALU.”

Masa nanti akan datang, itu pasti, tak peduli apakah kita khawatir atau tidak, menimbang bahwa khawatir terhadap besok itu tidak ada gunanya, maka lebih baik memilih untuk tidak khawatir dong?! Damailah hidup kita.

Live in the present, seperti kalimatnya, jelas sekali, kita harus hidup di saat ini, kesadaran kita, perhatian kita, fokus ke yang ada di sini, sekarang ini. Masa depan dan masa lalu, tidaklah nyata, hanya ilusi, hanya ada dalam hayalan kita.

(jadi dapat ide nih, kalau kita punya jadwal sehari-hari, mungkin cara kita menyebut jam harus kita perbaiki. Dari “wah, jam 4 sore nanti saya harus pergi ada urusan” ke “saya di sini sampai jam 4 sore,” Simpel dan terkesan sepele, tapi saya yakin ini bisa berdampak berbeda).

Saat kita hidup di saat ini, sebenarnya kita dalam kondisi menerima apapun yang terjadi, kehidupan saat ini, bukan kehidupan yang diharapkan. Nerima ini, tentu berhubungan erat dengan ekspresi kita bersyukur pada Sang Maha Pencipta.

Maafkan diri sendiri untuk kesalahan yang sudah diperbuat. Taubat pada Sang Ilahi, lalu terimalah apapun yang akan datang, jika memang ditakdirkan datang, pasti datang. Ini bukan soal apa yang akan datang, tapi bagaimana kita menghadapi apa yang akan datang. Kita memang boleh mempersiapkan hal-hal, bekal untuk masa depan. Tapi fokus kita adalah tetap di saat ini, yang nanti akan datang, belum terjadi.

Nah, untuk kalian yang ingin belajar lebih jauh untuk bisa hidup di saat ini; berikut daftar link artikel yang bisa kalian kunjungi.. Kapan2 elmuha buat rangkuman berbahasa Indonesianya, InsyaAllah..

  1. http://paidtoexist.com/how-to-live-fully-in-the-present/
  2. https://www.becomingminimalist.com/10-tips-to-start-living-in-the-present/
  3. https://www.psychologytoday.com/articles/200811/the-art-now-six-steps-living-in-the-moment

Selamat belajar 🙂

LEAVE A REPLY