Saya adalah satu dari deretan orang-orang golongan super sensitif. Entah gimana bisa, saya mudah sekali menangkap detail kecil dari perkataan bahkan ekspresi seseorang yang mungkin orang-orang tsb saja gak sadar dia mengucapkan atau menunjukkan ekspresi itu.

Dan yang bikin beban lagi, adalah bahwa pengalaman itu akan teringat untuk jangka waktu yang amat sangat lama. Bahkan ketika detail kejadiannya sudah perlahan hilang, pun masih menyisakan trauma-trauma yang bikin kzl.

Trauma, ini sungguh menjadi PR saya sejak dulu. Saya terlalu ahli dalam pelajaran “mengingat” sampai jadi gak punya skill untuk “melupakan” atau bahkan yang lebih mudah; “mengabaikan.”

Concern untuk menjadi Easy Going itu bukan baru-baru ini. Sejak setidaknya 5-8 tahun lalu saya sudah mulai belajar. Karena jadi orang sensitif itu gak enak cuy.

Bayangkan, lagi ngomong sama orang, eh terus kita nangkep satu ekspresi gak enak, rasanya pengen pergi dan tak kembali aja dah.

Saya pun tak pernah sekalipun memberikan komentar, karena saya tau pasti; mereka akan membantahnya.

“Ah, kamunya aja yang terlalu baper dan lebay!” Palingan gitu jawabannya..

Padahal; bagi saya, ekspresi wajah adalah hal terjujur dari komunikasi oleh seseorang.

Body gesture itu mengalahkan ucapan mulut. Buktinya; banyak sekali polisi yang memecahkan masalah kriminal dengan bermodalkan bahasa tubuh ini, tentu termasuk bahasa ekspresi wajah.

Lantas, bagaimana jika saya salah?

Nah ini; saya pun gak akan berani menyimpulkan sebuah arti dari ekspresi wajah jika tak disertai bukti lain. Apa?

Tentu saja itu tadi; body gesture, dan perkataannya.

Jika tak sejalan, maka sudah satu bukti, bukan? Jika ternyata bahasa tubuhnya juga selaras dengan ekspresi, sudah dua bukti. Eh ternyata perkataannya juga cukup matching dengan dua bukti sebelumnya, maka yang paling kuat dari semua itu bagi saya adalah ekspresi wajahnya.

“Kamu jelek!” dengan muka datar. Gimana tanggapanmu kalau ada temen ngomong gitu.

Bandingkan dengan ngomong yang sama, tapi sambil tersenyum, tertawa, atau dengan muka jijik?

Tentu kadar artinya akan amat sangat jauh berbeda bukan?!

Ya, trauma terdalam saya pada beberapa orang, sebagian besarnya adalah dari ekspresi mereka.

Termasuk dari ekspresi bicara, atau intonasinya, alur, serta emosi yang dibawa dengan bahasa ucapannya.

Nah, gimana.. Paham kan kenapa jadi orang sensitif itu gak ada enak-enaknya?

Lebih enak jadi orang cuek aja, easy going lebih baik lagi..

Easy going itu apa ya artinya…

Relaxed and tolerant in approach or manner.

Ya, santai aja keleeeeus.. dan toleran.

Kok toleran, gimana maksudnya??

Ya menikitehi!!!

Tapi kira-kira yang saya tangkap begini; kita itu gak bisa men-judge seseorang hanya dari pengalaman singkat, kita tak tau yang dia benar-benar maksud dari perkataan atau perbuatannya itu apa, dan ada cerita apa di balik semua itu, tentu pengalaman orang itu beda-beda, mungkin hari itu dia sedang having a bad day?

Kita gak boleh baper dan kadang gak bisa menganggap personal perkataan orang lain, walau… ya, seringnya personal. Tapi pura2 aja kita anggap bukan personal.

Toleran juga berarti; kita harus menghormati akan apa yang orang lain katakan dan perbuat. Mereka punya alasan di balik itu, atau mungkin mereka tak benar-benar sadar ketika melakukannya, lagi tiba-tiba keingat mantan misalnya, atau keingat hutang?! Bisa banget kan?!

So, easy going.. 

Mendengar, lalu kita proses dengan energi positif tanpa baper yang macem2.

Hmm… andai prakteknya bisa semudah BACOTAN saya di atas ya..

Faktanya, hingga detik ini saya masih belajar keras. NAIK-TURUN progresnya..

Hari ini bagus, besoknya trauma lagi.. begitu berulang-ulang seperti roda becak kuda yang berputar.

Delman, becak kuda itu disebut Delman saudara2.

Beberapa hari terakhir, lebih lama lagi; satu bulan terakhir, saya lagi coba bikin komentar di social2 media, tanpa merasa bersalah setelah melakukannya.

Tentu semua itu diawali dengan proses pertimbangan dalam mengetik komentar2.

Saya juga coba menjawab komentar2 di channel saya dengan sikap TOLERAN yang tinggi..

Malah kadang saya bales yang setimpal dengan tetap toleran dan sedikit guyon.. toh kadang memang harus begitu. Yang penting; GAK BAPER.

Yang penting saya gak tersinggung dan gak jadi trauma…

It’s so FUN cuy!!

Saya gak nyangka bisa asyik juga bahkan ketika coba komentar yang sedikit “mem-bully” sebuah perkataan orang yang berisi bully-an juga, argh… saya bisa melupakan dan gak trauma.. Asalkan itu tadi; dipikir dulu sebelum berbuat. Dan seminimal mungkin melakukan konfrontasi.

Walau beberapa kali sengaja saya bikin komentar yang cukup kejam juga sih.. Tapi fakta bahwa saya biasa saja setelah melakukannya, adalah satu bukti bahwa saya sudah mengalami sedikit progress kemajuan dalam belajar jadi easy going person.

Sayangnya, baru sebatas hal-hal seperti itu yang bisa saya atasi.

Hal-hal yang lebih besar, serius, dan sudah terjadi di masa lampau, masih sangat terasa traumanya, dan itu perlahan masih menggerogoti mental saya hingga kadang rasanya mau ambruk.

Baru sadar, ambruk ini kayaknya diserap dari bahasa I am broke yakk… ckck… Oke, see yaaaa…. Selamat Hari Raya ‘Id Al-Fitr btw.. barangkali besok2 gak sempat ngucapin di blog ini…

Mohon maaf lahir batin ya, semuanya!!!!! Love you all… and hate you all at the same time…

I am kiddiiiiing… 

Nope, I am not kidding.

belajar jadi easy going

Kiddiiiing!!!!

Nope..

LEAVE A REPLY