Puluhan juta detik yang lalu ketika saya nonton ulang sinetron Para Pencari Tuhan entah jilid berapa lupa; ya kira-kira jilid 3/4/5 gitu, saya mendapat satu intisari yang dahsyat.

Adalah prinsip hidup bahwa mempekerjakan orang lain adalah salah satu sarana untuk “bagi-bagi rezeki.”

Istilah bagi rizqi ini tentu kurang tepat; karena yang memberi rizqi semuanya adalah Yang Maha Pemberi Rizqi. Namun ya biar lebih gampang ditangkap saja ya pesannya.

Medium dalam pemberian rejeki itu seringnya memang antar manusia itu sendiri. Itulah kenapa salah satu kunci lancarnya rizki adalah Silaturrahim alias Networking!

Nah, sekedar mengingat lagi biar jangan lupa; karena ternyata memang prinsip ini sempat hilang dari kepala saya! Bahwa, kalau kita punya cara berpikir seperti ini, jamin deh, hidup bakal lebih enak meskipun kita harus keluar duit buat ini dan itu.

Birokrasi yang dibikin sepanjang itu, segala hal yang perlu duit, dan segala profesi “liar” yang minta duit ke kita; yang jelas sekali sering bikin kita ngomel2, padahal kalau kita arahkan semua pikiran itu ke prinsip; bagi-bagi rejeki, pasti kita akan ikhlash dan damai hidupnya.

berbagi rejeki

Makanya.. meskipun saya terbiasa ngerjain berbagai hal sendiri; mungkin nurunin orang tua yang juga suka ngerjain segalanya sendiri, saya pasti akan berusaha sesering mungkin minta bantuan ke orang lain dan tentunya dengan kasih komisi.

Contoh gampangnya; bersih-bersih rumah, bikin furniture, mbangun atau maintenance rumah, ngebengkel kendaraan, ngebetulin alat-alat, dsb..

Ketika kita mempekerjakan orang lain; padahal kita sendiri sebenernya mampu; cuma kadang malas; atau kita belum sempat mempelajari caranya; maka ada satu alasan lagi yang lebih barokah; yakni dengan niatan berbagi dengan orang lain.

Dan ingat satu hal; membantu orang lain dengan cuma-cuma ngasih duit; itu bukan cara yang bijak! Kecuali orang-orang yang membutuhkan; termasuk Mustahik (yang berhak menerima zakat).

Harus ada medium atau perantara untuk membantu orang lain. Misalnya; alih-alih ngasih duit ke keluarga yang kekurangan padahal mereka punya usaha kecil-kecilan, ya jelas lebih baik untuk membeli “dagangannya”, mereka akan lebih menghargai itu.

Termasuk ketika kita minta bantuan orang lain untuk berbagai hal; itu akan bernilai mulia ketika diniatkan juga untuk membantu orang lain.

TENTU; Itu berlaku kalau kita punya uang ya..

Kalau kondisi lagi bokek, ya tentu kita sendiri yang membutuhkan bantuan; maka lakukan hal-hal yang bisa dikerjakan sendiri; sendiri!

Asal jangan lupa, ketika kita sudah punya uang lebih; maka pikirkanlah bagaimana cara kita “MEMUTARKAN” uang yang kita punya agar lebih bernilai dan lebih bermanfaat untuk orang lainnya.

Saat ngaji di pesantren dahulu kala; ada satu nasehat bahwa uang yang baik itu adalah uang yang “DIPUTARKAN.” Jangan ditabung lalu didiemin terus bertahun-tahun.

Mending dipinjamkan ke orang lain; atau lebih baik lagi dipakai untuk usaha; atau membantu panti asuhan, dipakai untuk meningkatkan kualitas diri, membantu anggota keluarga, dan sebagainya.

Ini tentu saja nasehat utamanya untuk diri sendiri. Saya sering berpikir; ingin ngumpulin duit sebanyak-banyaknya biar ngerasa tenang gitu loh. Mungkin terdengar masuk akal; padahal saya yakin sekali cara tsb tidak mulia dan tidak berfaedah.

Mungkin kalau belum mampu untuk memutarkan semua uang; ya invest saja ke property, atau tabung sebagian dan sebagian lagi putarkan demi kemaslahatan bersama.

Banyak sekali cara agar bisa bermanfaat bagi sesama; dan itu adalah cita-cita hidup saya, yang sayangnya sering ditunda gara-gara satu alasan; cari uang dulu!

LEAVE A REPLY