Kalau ada orang yang paling terpukul dengan kondisiku saat ini; maka itu adalah aku.

Jangan merasa bahwa kalianlah yang paling dirugikan. Faktanya; aku yang mengalami, aku yang merasakan langsung dampaknya.

Coba pikirkan; aku yang sudah bersusah payah membangun diri, lalu ketika hanya tinggal selangkah lagi, dan aku meminta bantuan karena tak bisa melewatinya sendiri, yang kuterima lalu malah harapan kosong bahkan penolakan.

Jika kalian menyalahkanku saat ini; maka akan kubalikkan; waktu itu aku sudah meminta pertolongan dan aku tak mendapatkannya. Dan akibatnya; aku jatuh.

Sekarang; aku cari jalanku sendiri. Aku tak lagi meminta-minta bantuan, bahkan bukan ke orang terdekat sekalipun.

Jika aku gagal menemukan jalan keluar; tak apa, toh aku juga cukup betah di sini.

Namun kadang aku teringat mimpi-mimpiku..

Impian-impian yang tertunda..

Hanya impiankulah yang membuatku masih “hidup” saat ini.

Aku cari jalan setapak yang mungkin akan membawaku keluar dari rimba ini.

Aku yakin, jika aku bisa terus saja berjalan, meniti jalan keluar yang kuyakini; aku pasti akan berada di ujung jalan setapak ini, dan menemukan jalan bebas hambatan nantinya.

Aku hanya mencoba, tak muluk-muluk harus segera terlaksana.

Aku tak lagi berani berharap terlalu tinggi; karena jatuhnya pun akan lebih sakit.

Aku buat impian sewajar mungkin, tanpa mengabaikan bahwa impianku tetap harus dijaga.

Jangan terlalu sering menurunkan mimpi, tapi tingkatkanlah diri kita untuk menggapainya. Begitu bukan kata nasehat?

Jalan setapak ini jujur saja terlalu sulit kulalui tanpa bantuan orang yang sudah lebih dulu bisa melaluinya.

Namun egoku mungkin sudah membentuk gunung yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun.

Aku tak butuh bantuan kalian.

Bukan berarti karena aku tak benar-benar butuh.

Aku hanya lelah untuk berharap ke sesama manusia.

Toh yang peduli dengan diriku, hanyalah aku sendiri. Tak ada satupun yang lebih peduli selain diri sendiri, debat aku jika kalian berpikir lain, aku seratus persen yakin akan hal itu.

Kalian boleh merendahkanku saat ini.

Toh aku sudah pernah merasa tinggi di waktu-waktu yang lampau.

Nyatanya; aku hanya terlihat ketika aku sedang jatuh.

Ketika aku tak berdaya.

Lalu disalah-salahkan karena punya keputusan yang keliru.

Lalu bagaimana ketika aku sedang di atas? Tak ada bukan yang menyalahkanku? Tak ada juga yang menyanjungku.. Bukan berarti aku ingin diagungkan waktu itu.

Aku hanya berharap; aku yang ada saat ini; adalah aku yang masih sama seperti dulu. Aku yang aku.

Keputusan yang aku buat mungkin keliru.

Tapi itu tidak kubuat begitu saja.

Semuanya adalah berkat pengaruh-pengaruh kalian.

Jika kalian ingin membela diri dan tidak mau disalahkan, oh… silahkan.

Tapi jangan salahkan aku sedikitpun. Karena ujung-ujungnya, akan kukembalikan; ke mana kalian saat aku membutuhkan uluran tangan kalian.

Oh ya.. pasti akan kalian jawab; kami punya urusan kami masing-masing, kenapa kau tak urus urusanmu sendiri?

Ya.. itu yang kulakukan.

Aku mengurus diriku sendiri, tentu dengan caraku sendiri, melalui jalan yang kupilih sendiri. Kalian tak perlu menyalahkan kalau begitu…

Bantuan yang kalian berikan sudah cukup.. Meski harus kusesali karena tak datang ketika aku sedang “lapar-laparnya.”

Bantuan kalian kubutuhkan, tapi tak akan kuminta sedikitpun. Aku lelah meminta-minta.. Aku malu untuk meminta pada manusia. Hanya pada Dia aku berani, karena aku tau pasti Dia punya segalanya yang kubutuhkan.

Meniti jalan keluar

LEAVE A REPLY