Banyak orang bilang mobil diesel itu irit banget!

Well, mungkin benar. Tapi adakah mobil diesel di Indonesia yang bisa mencapai efisiensi BBM hingga 20 Km/liter bahkan lebih?

Oh tentu ada! Diesel BMW contohnya.

Selain merk asal Jerman itu, saya belum menemukan ada mobil diesel yang punya keiritan seperti mobil bensin.

Nah, itu adalah perbandingan yang tidak fair. Kenapa, karena kita tidak tau, jenis mobil apa yang punya keiritan 20 Km/liter, dan mobil diesel apa yang dibandingkan. Karena kapasitas mobil diesel di Indonesia itu rata-rata kisaran 2500cc, kecuali punya BMW yang 2000cc, atau mungkin diesel Hyundai juga tak sampai 2500cc.

Intinya adalah, mobil bensin jika kapasitas mesinnya besar, pasti akan semakin boros juga. Di situlah perbandingan lebih fair, dimana mobil diesel akan dengan bangganya menyebut mesin mereka irit.

Mobil Diesel vs Mobil Bensin

Lalu, bagaimana cara biar tambah irit lagi pengeluaran uangnya?

Saya yakin sudah pada tau ya 😀 Pakai Solar Subsidi yang harga Rp 5150.

Seboros-borosnya mobil diesel misalnya 10Km/liter. Maka untuk menempuh jarak 100 Km, mobil diesel berbahan-bakar Solar Subsidi hanya keluar uang Rp 51.500.

Sedangkan di sisi lainnya, mobil bensin yang sangat irit, mendapatkan keiritan BBM kombinasi 15 Km/liter, menenggak Pertalite katakanlah seharga Rp 7800. Maka untuk menempuh jarak 100 Km, diperlukan biaya Rp 52.000, alias hanya lebih banyak 500 perak saja.

Sayangnya, tidak banyak mobil yang bisa mendapatkan level keiritan seperti mobil jenis city-car. Untungnya MPV bermesin 1500cc juga sudah bisa sangat irit.

Dan, mobil diesel juga rata-rata lebih irit dari angka 10 kpl. Rute kombinasi untuk mobil2 diesel berbobot 2 ton itu 12 Kpl, jalan lenggang bisa 14 Km/l.

Jika kita ambil figur 12 Kpl untuk diesel, dan 15 Km/l untuk bensin, maka untuk menempuh jarak 100 Km, dengan bahan bakar masing-masing Solar subsidi dan Pertalite, maka biayanya adalah Rp 43 ribu untuk diesel dan Rp 52.000 untuk bensin.

Sampai di sini saja sudah lebih irit mobil berbahan bakar solar, jelas, karena harga solar yang sangat murah.

Kalau naik level sama-sama pakai Pertamax dan Dexlite, maka akan terlihat kalau mobil bensin dengan figur keiritan 15 Kpl bisa lebih irit dari diesel yang 12 Kpl.

Sayangnya sekali lagi, mobil dengan keiritan 15 Kpl itu biasanya mobil kecil. Ambil contoh mobil yang sedikit lebih besar, maka akan mudah sekali mendapatkan keiritan hanya 12 Kpl, 10 Kpl, bahkan di bawah itu.

Jadi, menurut elmuha, mesin diesel memang sangat-sangat bisa bikin irit, kalau mobilnya besar!

Kalau mobil yang diperlukan yang kecil saja, maka mobil bensin pun sudah sangat irit. Dan jika mobil besar macam SUV seperti Pajero Sport, Fortuner, atau MPV medium seperti Innova, menggunakan mesin bensin, bisa kita dapatkan infonya bahwa konsumsi BBM terbilang boros.

Boros karena mesin bensin yang dicangkokkan berkapasitas 2000-2700 cc, sedangkan performanya dikuras habis-habisan karena membawa mobil berbobot sangat berat.

Innova bensin, diklaim oleh para pengguna hanya bisa 9 Kpl untuk luar kota. Di dalam kota, jelas lebih boros dari itu.

Katakanlah Innova bensin menggunakan Pertalite (9 Kpl), jarak 100 Km akan perlu Rp 86.600. Sedangkan Innova Diesel menggunakan Pertamina DEX dengan figur 14 Kpl (LuKot), perlu biaya Rp 84.600. Bisa dibilang pemenangnya seri.

Mesin Innova bensin tak perlu Pertamax, tapi mesin Diesel Innova Reborn direkomendasikan minum DEX. Jika Innova Bensin dipaksa minum Pertamax, maka biayanya membengkak jadi Rp 115.500, tak perlulah ya.

Oke, tadi, Pertalite vs DEX dengan keiritan 9 Kpl vs 14 Kpl, mesin diesel yang menang, tipis saja. Namun, Innova Diesel tentunya lebih ngacir karena tenaga mesin yang lebih besar signifikan. Jadi, dari perbandingan Innova Diesel vs Bensin maka Innova Diesel menang telak. Apalagi kalau penggunanya tega ngasih minum Solar subsidi ke Innova Diesel; Perlu Rp 37 ribu saja untuk 100 Km figur 14 Kpl.

Dari ulasan yang sangat acak-adut di atas, sambil gelap-gelapan karena mati lampu, maka saya bisa ambil kesimpulan, untuk diri sendiri dulu mungkin; bahwa mobil kecil memang tak (terlalu) butuh mesin diesel karena sudah irit dari lahir, sedangkan mobil-mobil besar yang berbobot hampir 2 ton, sepertinya lebih enak pakai mesin diesel berturbo.

Nah, bicara turbo, kita belum bandingkan tuh mobil-mobil petrol berturbo, misalnya CR-V Turbo yang punya keiritan super juga, lari kencang, mesin halus!

Atau BMW G30 yang kemarin diuji, bisa seirit 20 Kpl bukan? Padahal mesin bensin, namun pakai Turbo dong pastinya.

Jadi, banyak sekali cara untuk bisa membuat mobil bensin jadi irit, tapi effort-nya lebih mahal dari sekedar bikin mobil diesel yang powerful namun tetap irit bensin dan irit duit.

Demikian sedikit coretan malam ini; Awal ide tulisan sebenarnya membandingkan mobil bekas diesel harga 200 juta, dengan mobil bensin 150 juta, mobilnya sama jenis dan merknya, butuh berapa tahun sampai akhirnya mobil diesel bisa lebih menguntungkan dari mesin bensin dengan jarak penggunaan sehari-hari yang sama. Kita bahas di lain waktu kali ya, bocorannya; mobil bekas bensin tidak sebegitu merugikan. Saya prefer diesel though, karena lebih powerful, itu saja. Tapi lebih berisik, lebih bau tidak enak saat membuka kaca. Ah, memang plus minus ya mobil diesel vs bensin. Menurut anda gimana? Ada pengalaman punya keduanya?

LEAVE A REPLY