Jika melihat di sekeliling kita, lalu kita merasa pusing atau tidak nyaman, bisa jadi itu karena sudah terlalu banyak barang berantakan, atau ruangan yang menjadi sempit karena terlalu banyak barang, maka mungkin sudah waktunya untuk merubah gaya hidup kita menjadi minimalis.

Minimalis itu apa sih? Bukan, bukan memiliki barang yang sangat sedikit. Namun sebenarnya lebih pada cara berpikir kita tentang benda-benda. Gaya hidup minimalis lebih mementingkan apa yang kita butuhkan, apa yang paling penting bagi kita, apa yang paling kita cintai, bukan memiliki dan menyimpan barang-barang yang kita inginkan meskipun kita tau tidak akan menggunakannya dalam waktu dekat.

Di rumah orang tua saya, kalau Anda main, pasti akan terkejut betapa banyaknya barang-barang, alat-alat, mesin, yang numpuk di gudang rumah. Setiap pulang, tentu saya merasa sangat pusing melihat itu semua, karena saya terbiasa hidup di rumah kost dan barang-barang saya sangatlah sedikit. Walaupun jujur saja 2 tahun terakhir rasanya sudah melebihi apa yang saya harapkan.

Melihat kamar kost saya yang sekarang saja saya sudah sering tidak nyaman, karena ruangan kecil namun barangnya sudah terlalu banyak. Apalagi ketika pulang ke rumah orang tua. Memang sih, dimensi rumah tentunya jauh, jauh lebih besar dari kamar kost saya. Tapi tetap saja, terlalu banyak barang yang bikin pusing karena sangat jarang digunakan.

Nah, karena saya sedang belajar untuk hidup minimalis, kalau bisa sih seminimalis mungkin sehingga ketika pindah tempat tinggal misalnya, saya hanya perlu satu tas backpack untuk barang paling penting, dan top box motor ukuran 45 liter misalnya.

Namun jangan salah sangka, hidup minimalis tidaklah harus seperti yang saya inginkan tsb. Bisa saja, hidup minimalis Anda memerlukan 3 buah koper, terutama jika Anda adalah wanita yang punya banyak pasang sepatu, tas, baju, dan macam-macam lainnya yang tidak terlalu dibutuhkan pria, pada umumnya.

Intinya adalah, bagaimana untuk mengatur apa yang akan kita miliki. Dan apa yang kita sudah punya. Jika yang ada masih bisa bekerja normal, mungkin tidak perlu lah untuk membeli yang baru. Atau, jika ingin ganti, mungkin yang lama perlu dijual atau dikasihkan ke orang.

Baju, pakaian kita yang sudah tidak kita pakai, seberapa banyak itu jumlahnya, yang sebenarnya bisa sangat bermanfaat lebih jika kita berikan pada mereka yang sangat membutuhkan. Kelasnya saya saja yang hidup pindah-pindah, punya pakaian yang sudah tidak dipakai namun masih disimpan, mungkin perlu tiga koper sedang untuk mengemasnya.

Sekarang, pakaian saya sangat dibatasi. Beberapa baju kemeja, celana, kaos, hanya yang saya pakai setiap hari saja. Sisanya, saya kemas rapih, sayangnya saya juga belum tega atau mungkin belum sempat untuk menyumbangkan baju2 tsb ke orang yang lebih membutuhkan, saya juga masih proses belajar ya.

Ke depan, impian saya malah lebih ekstrim sepertinya. Seperti saya katakan, saya inginnya, hanya membutuhkan satu box motor 45 liter saja untuk berpindah tempat. Di backpack hanya alat-alat penting seperti laptop, adapter, baterai, gadget, dan barang kecil yang penting lainnya.

Saya punya impian untuk hidup minimalis dan berpindah tempat alias menjadi nomadic. Tentu itu membutuhkan pengaturan barang bawaan yang sangat simpel agar mudah berpindah2 tempat.

Selain itu, saya juga membutuhkan tempat tinggal yang sudah siap ditinggali normal selayaknya orang lain. Tak perlu harus menyiapkan barang2 toilet, dapur, tv, kursi, apalagi kasur. Jelas, ini bukan gaya hidup yang murah, saya juga sekarang gak punya duitnya 😀 tapi bolehlah ya suatu kapan, mudah-mudahan gak lama lagi bisa. aamiin.

LEAVE A REPLY