Apakah uang bisa bikin kita bahagia? Apakah kebahagiaan dalam hidup itu harus diukur dengan seberapa banyak harta kita, seberapa besar penghasilan kita?

Bahasan tentang apakah uang bisa bikin bahagia ini sudah pernah elmuha tulis, di blog ini juga.. Tapi hari ini saya pingin nulis lagi.

Bagaimana hubungan antara uang dan kebahagiaan?

Apakah uang bisa bikin bahagia?

Jawaban simpelnya gini; IYA, bisa.. Tapi cuma salah satu faktor yang bikin bahagia.

Jadi kalau ada ungkapan, “Ah… uang bukan segalanya” “Tapi… segalanya butuh uang…” itu bisa kita anggap; benar adanja..

Salah satu faktor agar kita bisa bahagia adalah; saat kebutuhan dasar kita terpenuhi. Makan, tempat tinggal, pakaian…. Sesimpel itu..

Tapi kebutuhan dasar ini bisa diperluas lagi, misalnya; hubungan pertemanan, keluarga, kekasih, kendaraan, hiburan, dsb.

Lalu jika kebutuhan dasar tsb belum terpenuhi, apakah kita tidak bisa bahagia? Oh… Tentu bisa.. Tapi kita gak bahas itu kali ini….

Kembali fokus, jika kebutuhan dasar kita terpenuhi, kita bisa lebih mudah untuk bahagia, kenapa, karena kita akan jarang mengeluh tentang apa yang paling kita butuhkan sehari-hari.

Nah, kebutuhan dasar ini, perlu uang. Sedangkan seberapa besar uang yang diperlukan? Itu tergantung!

Karyawan di Bekasi misalnya, dengan gaji 3,5 jutaan rupiah, ada yang udah cukuuuuup banget, ada yang kurang banyak, salah satu yang komplain kurang banyak ini ternyata mesti nyicil motor Ninja… ya kan ribet yaaa….. 😀

3,5 juta rupiah kalau masih single sih udah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kalau sudah berkeluarga dan punya anak, mungkin kurang. Tapi, istri ikut bekerja di Jabodetabek itu lumayan biasa, jadi penghasilan keluarga bisa lebih.

Itu gaji buruh pabrik ya…

Kalau kerja sebagai officer… halah… maksudnya kerja kantoran… maka kemungkinan naik gaji sesuai peningkatan karir, itu lebih gampang… lebih mungkin… asalkan skill kita mumpuni.. Maka gaji bisa lebih besar.

Berdasarkan hitungan Om Yodhia (yang suka blog manajemen pasti tau lah siapa Bung Yod), minimal gaji atau pendapatan keluarga untuk tinggal di kota (Jabodetabek) itu minimalnya 15 jutaan rupiah per bulan.

Itu ngitung cicilan rumah, cicilan mobil, pendidikan anak, kebutuhan sehari-hari, dan sedikit hiburan…

15 juta!! Angka yang tidak kecil bagi sebagian besar Rakjat Indonesia.

Dan… sayangnya, elmuha setuju, bahwa pendapatan 15 juta, adalah standar minimal agar hidup cukup, di kotaaaaa.

Namun bukan berarti kalau belum mencapai itu, kita tidak bisa bahagia. Yang perlu kita lakukan adalah menyesuaikan diri dan emosi kita sesuai pendapatan, syukuri yang kita dapatkan, sambil berusaha lebih baik, maka kita bisa menikmati hidup dengan bahagia…

Lalu bagaimana dengan mereka yang berpenghasilan di atas 15 juta?

Maka kebahagiaannya tidak akan terlalu dipengaruhi secara signifikan lagi karena uang.

Bisa-bisa, kalau gak pandai mengolah pikiran sendiri, semakin besar penghasilan, bisa jadi semakin nyungsep pikirannya, emosinya, malah jadi stress dan lebih susah bahagia.

Coba kita pikirkan sejenak.

Bill Gates, orang terkaya di bumi saat ini, apakah beliau bahagia karena punya harta sebanyak itu?

Saya kira tidak.

Namun, beliau bisa merubah harta itu menjadi sesuatu yang membuat dia  bahagia. GIVING!

Yes, memberi, membantu fakir miskin, menyumbang ke negara miskin, dsb.

Dan… Memberi, kawan… adalah salah satu faktor penting dalam usaha membuat kita happy dalam hidup kita.

Namun, bukan berarti kita harus punya uang setara Bill Gates agar bisa memberi dan membantu orang lain.

Kita hanya perlu menyisihkan sebagian harta, untuk mereka yang lebih kekurangan. Semudah ituu….

Tak perlu lah nunggu punya penghasilan 100 juta untuk menyumbang 10 juta ke panti asuhan, misalnya…

Kenapa tidak kita coba, memberi beras 5 liter ke panti asuhan?? Atau… menyumbang buku bacaan? Atau… menyumbang tenaga untuk membantu?

Itu hanya sedikit dari cara agar kita bisa bahagia. Dan contoh di atas, adalah yang berhubungan dengan uang.

Faktor bahagia yang lainnya, akan kita bahas lebih lanjut di edisi artikel berikutnya ya…

LEAVE A REPLY