Artikel ini adalah catatan untuk mengingatkan diri saya sendiri yang kerap lupa.

Tadi siang, waktu sholat Jum’at, khotib memberikan nasehat yang sungguh bermakna buat saya yang lalai ini.

Sang khotib mengingatkan akan hakikat kita hidup di dunia ini. Apa sih yang kita cari di dunia, dan bagaimana kita menjalani hari-hari di dunia ini.

Ada sebuah cerita tentang Abu Huroiroh yang sedang ber i’tikaf di masjid lalu melihat ada seseorang di pojokan masjid sedang merenung dan tampak sedih. Lantas Abu Huroiroh menanyakan kepada orang itu, ada gerangan apakah dia tampak sedih begitu, lalu dijawabnya bahwa dia sedang memiliki masalah. Lalu Abu Huroiroh pun mengajaknya keluar untuk memecahkan masalah yang orang itu hadapi. Orang itu tidak langsung mau, dia bertanya dan memastikan, apakah Abu Huroiroh akan membantu dirinya dan meningggalkan ibadah i’tikaf yang jauh lebih mulia? Abu Huroiroh menjawab bahwa Rasulullah Shollallahu’alaihiwasallam pernah bersabda, bahwasannya membantu saudaranya yang sedang kesusahan, ganjarannya lebih baik dari i’tikaf selama 30 hari. Maaf kalau ada yang keliru, mohon dikoreksi.

Dari cerita singkat tsb, kita bisa mengambil pelajaran dan kembali mengingat hakikat hidup kita di dunia yang fana ini. Apa sih yang kita cari?

Mau jadi apa sih kita?

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi manusia lainnya?

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi hutang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

manusia-berjalan-s

Sungguh ironis jika kita melihat yang terjadi pada kita saat ini. Kita saling bersaudara, tapi tidak saling peduli, boro-boro saling membantu masalah.

Saat membantu orang lain yang kesusahan, kita seringnya berpikir, kita akan kehilangan waktu, harta, tenaga, hanya untuk orang lain. Padahal kalau kita renungkan lagi, bukankah itu seharusnya yang kita lakukan? Menyebarkan manfaat, bukan mengumpulkan harta hanya untuk sendiri.

Jadi, saat ada yang meminta bantuan, seharusnya kita senang, kita diberikan kesempatan untuk berbuat kebaikan. Tentu ini berakibat pada apa yang kita akan dapatkan di dunia, dan akhirat nanti, aamiin.

Dalam bisnis pun seharusnya seperti itu.

Saat menjadi pembeli, kita bisa memudahkan transaksi karena itu lebih baik. Tak perlu banyak menawar berlebihan demi memudahkan dan mungkin membantu orang yang berjualan.

penjual-di-pasar

Saat menjadi penjual, kita bisa memudahkan orang lain membeli dengan memberikan potongan harga atau tidak mengambil margin keuntungan terlalu tinggi. Sebaiknya selalu gunakan patokan harga pasaran karena itulah harga yang timbul secara natural dan yang baik sifatnya.

Selain itu, kita berjualan juga bisa diniatkan untuk hal kebaikan. Jangan melulu soal untung dan untung. Kita bisa jadikan usaha dan bisnis kita sebagai sarana untuk membantu orang lain yang kesulitan. Apapun caranya, jika bisa membantu orang lain, maka bantulah.

Dalam agama, kita diajarkan untuk tidak meminta-minta berlebihan, meminta berlebihan ya hanya pada Allah saja. Tapi di lain sisi, saat ada orang yang membutuhkan bantuan, maka tangan kita harus selalu siap untuk membantu, dengan apapun yang kita bisa.

Mudah-mudahan kita semua bisa lebih baik lagi ya, aamiin. Allahu a’lam.

LEAVE A REPLY