Oke, ini rahasia ya, antara kau dan aku, jangan bilang siapa-siapa, sssttt…

Jadi, salah satu impian elmuha adalah; living a mini life, hidup mini gitu lah.

Maksudnya gimana sih mini life?

Sebenarnya saya sudah beberapa tahun terakhir, ya terhitung sejak merantau waktu lulus Sekolah Dasar dulu, mesantren dan sekolah di Jawa, sudah mulai masuk kehidupan mini, singkat. Begitu juga sebagian dari kalian yang ngekost di Jakarta, ngontrak, tinggal di asrama, dsb, udah mulai masuk di kehidupan mini life.

Tapi Mini Life yang elmuha maksud di sini sedikit lebih dalam dari itu.

Mini life di sini maksudnya adalah kehidupan sementara yang terbilang sangat singkat. Jika misalnya kita merantau di Jakarta itu bisa bertahun-tahun sebelum akhirnya pulang lagi ke kampung karena sudah sukses dan tidak betah di kemacetan Jakarta, atau mungkin yang saat ini terpaksa tinggal di Jakarta karena ditugaskan di situ, lalu setelah berapa tahun, ditugaskan di daerah lainnya, misalnya di Dumai, Riau –¬†Di Mini Life, kita hanya tinggal beberapa bulan, paling lama ya sekitar 4-6 bulan lah, normalnya¬†sekitar 1 bulan.

Kita bisa berpindah-pindah tempat, 1 bulan di Jakarta Utara (di Ancol tepi pantai gitu brur), lalu pindah ke Jakarta Selatan yang agak ademan dikit, lalu setelah 1 bulan pindah lagi ke Bali misalnya, lalu 1 bulan di Cirebon, Subang, Medan, Aceh, atau bahkan di luar negeri.

at-cafe

Tentu tidak semua orang bisa menikmati gaya hidup mini ini. Jenis pekerjaan sangat menentukan, untungnya, di jaman digital ini, lebih banyak orang yang mampu dan memungkinkan untuk hidup mini. Yang bekerja sebagai programmer, writer, online freelance, pelukis, dsb. Bahkan pebisnis yang sudah mapan dan tidak takut perusahaannya ancur, pun bisa tinggal di daerah lain untuk bersantai dan mengurus bisnis lewat telpon dan internet saja.

Kalau soal family, well, ini tergantung aja. Bisa 1 bulan saja dalam setahun kita “minggat”, atau lebih baik lagi, kita ajak istri dan anak kita yang masih kecil untuk hidup mini juga. Pasti seru kan, asalkan hidup mini ini kita ikuti dengan gaya hidup minimalis.

Soal biaya, sebenarnya tidak terlalu mahal. Banyak alternatifnya brur. Misalnya di hotel melati yang bersih banget, 100 ribu perhari, bisa dapet diskon kalau kita langsung pesan 1 bulan. Dapet bonus dibersihin kamarnya tiap hari, dan gratis sarapan, tidak semua hotel memang. Atau, kita bisa tinggal di guest house, lebih irit lagi cuy.

Atau, yang sederhana saja, ngekost. Ah, ngekost ini mungkin akan saya nikmati bahkan sampai hari tua, kayaknya loh. Biaya ngekost sangat variatif. Mulai di bawah 500 ribu, sampai 5 jutaan untuk kost yang super mewah.

Standar 1-2 jt sudah nyaman biasanya, ada AC, ruangan besar, dan fasilitas kost yang terbilang lengkap.

Untuk makan, laundry, dsb, ah, pasti kalian lebih ahli lah dari pada saya.

Bagi yang tidak terbiasa jadi “BoLang”, mungkin tidak akan betah ya hidup berpindah-pindah terlalu cepat begini. Tapi, saya pribadi kayaknya bisa menikmati. Kalau bosan, ya tinggal balik ke rumah, bisa rumah sendiri, orang tua, atau nenek, dimana saja lah.

camping

Sekali lagi, ini rahasia antara kita berdua. Saya menginginkan gaya hidup seperti itu, lebih dalam lagi, elmuha sebenarnya lebih pengen hidup super mini, Super Mini Life, hidup berpindah-pindah dalam hitungan hari, ah… terlalu indah untuk dibayangkan. Tepian pantai dengan tenda dan perlengkapan kemah, di lapangan, di gunung, di masjid, di rumah orang, dan di tempat-tempat yang unpredictable.

Gimana, ada yang pengen hidup kaya gitu juga?

LEAVE A REPLY