Ayah saya beberapa kali bilang; kita gak perlu kaya, yang penting kecukupan.

Yang dimaksud kecukupan tsb adalah, cukup untuk apapun. Pengen beli makan enak, duitnya cukup, pengen motor bagus cukup, pengen mobil cukup, beli rumah pun ada duitnya, semua cukup.

Beliau juga sering saya tanya; Bah (panggilan saya ke ayah), Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, itu kaya gak si bah? Katanya kan mahar ke Siti Khadijah RA itu 600 unta, berarti berapa M ituh…

Lagi, ayah saya jawab; Rasulullah itu kecukupan, perlu untuk apa aja ada. (Rasulullah adalah raja, raja punya kerajaan, kerajaan punya apapun). (Saya berharap jawaban yang lebih panjang sebenarnya, termasuk saat Nabi Muhammad belum diangkat menjadi Rasul)

 

Ya, as simple as that prinsip ayah saya. Lalu apakah saya setuju?

Well, iya dan tidak.

menggapai-kehidupan-yang-lebih-baik-s

Ini relatif ya, dari pilihan kata, saya mungkin tidak setuju dengan kata “pengen”, lebih enak kalau kita ganti “butuh”. Karena yang kita pengenin itu kadang gak kita butuhin. Tapi saya yakin maksud ayah saya itu pengen ya pasti butuh, maklum, prinsip orang tua kan kalau gak butuh ya gak usah dibeli.

Sering juga saya tiba-tiba berubah pikiran (maklum masih labil mencari jati diri), “ahh…. yang bikin kita gak kecukupan kan diri kita sendiri, yang kita perlukan hanyalah merubah cara berpikir, dan mensyukuri apapun yang ada saat ini.”

Dengan selalunya kita bersyukur, saya yakin kita tidak akan butuh apa-apa lagi, karena yang ada pun sudah terlalu banyak… Segala puji hanya untukMu ya Allah….

 

Jadi, di sini saya hadir sebagai pertengahan antara prinsip harus cari duit, dengan prinsip syukuri segala yang ada.

 

Saya yakin kita semua setuju bahwa manusia memiliki kebutuhan, memang sih relatif, tapi tetap saja kita punya kebutuhan. Setidaknya, misal kita pengen sedekah 10 juta, maka kita butuh uang 10 jt tsb. Atau kita pengen punya anak pintar, maka kita perlu dana untuk membiayai pendidikan. Memang banyak alternatif yang tidak butuh dana, tapi kita di sini bicara orang pada umumnya. Sulit merubah cara berpikir manusia, karena itu kita coba menghadapi yang sudah umum saja.

Misal kita butuh untuk berdakwah, silaturrahim, maka kita perlu biaya, minimal untuk transportasi, itu kalau kita gak mau ngrepotin orang lain. Toh kalau kita minta bantuan pun, hakikatnya orang yang membantu kita pun perlu biaya atau effort.

Kita mau apa saja, kita butuh uang. Beli rumah untuk ibadah yang lebih berkualitas, beli mobil untuk menghemat tenaga dan kemudahan kemana saja, Haji saja butuh puluhan bahkan ratusan juta kalau mau yang gak lama nunggu.

Intinya, kita butuh uang.

Jadi, kita perlu berusaha untuk cari uang, duit, nafkah, menjemput rizki, apapun istilahnya.

Tapi jangan lupa bersyukur. Kita harus senantiasa mensyukuri yang sudah kita miliki. Kita juga bisa berbagi rejeki dengan kerabat dan keluarga. Jangan dengki melihat kekayaan tetangga atau teman kita. Apa yang kita punya sudah sangat mewah bagi mereka yang belum memiliki, syukuri.

Termasuk mensyukuri waktu yang sudah Allah kasih untuk kita. Masa sih mau kita buang-buang waktu dan kesempatan dengan aktivitas yang tidak produktif?

Maka mencari nafkah, adalah salah satu aktivitas yang amat sangat berpahala, terutama bagi yang sudah berkeluarga. Pahalanya sangat besar dan termasuk aktivitas berjihad di jalan Allah.

Aktivitas lain tentunya masih banyak, seperti bersedekah, mengunjungi fakir miskin, yayasan, sekolah, menuntut ilmu terus menerus, memperbaiki fasilitas penduduk, dsb. Terlalu banyak yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu agar bisa menjadi bekal kita saat mati nanti.

Jika belum mampu itu, maka kembali ke satu hal yang harus kita lakukan; berusaha memenuhi kebutuhan kita dan keluarga bagi yang sudah menikah.

Jangan malas dan banyak menunda-nunda kebaikan. Lakukan sekarang dari yang terkecil.

 

*Artikel kategori BELAJAR adalah artikel yang pada dasarnya ditujukan untuk penulisnya, dan berharap ada orang lain yang ikut “mendengar.” ALT title: Motivasi mencari uang dalam Islam, apakah kita perlu cari uang, motivasi bekerja cari uang.

Terms: belajar dan bekerja merupakan kebutuhan untuk memenuhi net, belajar untuk memenuhi kebutuhan

LEAVE A REPLY